PT. BESTPROFIT FUTURES MEDAN — Harga minyak dunia turun tipis pada perdagangan Senin (1/4) pagi. Harga mempertahankan sebagian besar kenaikannya baru-baru ini di tengah ekspektasi pasokan yang lebih ketat dari pengurangan produksi OPEC+, serangan terhadap kilang Rusia, dan data manufaktur China yang optimis.

Dilansir Reuters, harga minyak mentah Brent turun 17 sen, atau 0,2 persen, menjadi US$86,83 per barel pada 00.17 GMT setelah naik 2,4 persen minggu lalu.

Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah West Texas Intermediate AS sebesar 11 sen, atau 0,1 persen, ke US$83,06 per barel, menyusul kenaikan 3,2 persen pada pekan lalu.

Volume perdagangan diperkirakan akan tipis pada awal pekan ini karena beberapa negara tutup lantaran libur Paskah.

Hal itu terjadi usai Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, sebuah kelompok yang dikenal sebagai OPEC+, berjanji untuk memperpanjang pengurangan produksi hingga akhir Juni. Komitmen tersebut dapat memperketat pasokan minyak mentah selama musim panas di belahan bumi utara.

Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak mengatakan pada Jumat bahwa perusahaan minyaknya akan fokus pada pengurangan produksi daripada ekspor pada kuartal kedua untuk membagi pengurangan produksi secara merata dengan negara-negara anggota OPEC+ lainnya.

Serangan drone melumpuhkan beberapa kilang Rusia, yang diperkirakan akan mengurangi ekspor bahan bakar Rusia.
“Risiko geopolitik terhadap pasokan minyak mentah dan bahan baku yang banyak menambah kuatnya fundamental permintaan pada kuartal kedua 2024,” kata analis Energy Aspects dalam sebuah catatan.

Hampir 1 juta barel per hari kapasitas pemrosesan minyak mentah Rusia tidak berfungsi di tengah serangan tersebut, sehingga berdampak pada ekspor bahan bakar minyak berkadar sulfur tinggi yang diproses di kilang di Tiongkok dan India, tambah konsultan tersebut.

Di Eropa, Analisis Goldman Sachs menilai permintaan minyak sekitar 100 ribu barel per hari, lebih kuat dari perkiraan awal. Sebelumnya, permintaan diproyeksi turun 200 ribu barel per hari pada 2024.