PT. BESTPROFIT FUTURES MEDAN — Harga minyak jatuh nyaris 5 persen, Jumat (17/11) ini, dan menjadi level terendah dalam empat bulan terakhir imbas data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan China.

Pemicunya, kekhawatiran pasar terkait terkait potensi penurunan permintaan global menyusul lemahnya data ekonomi AS dan China.

Minyak berjangka brent turun US$3,76 atau 4,6 persen ke US$77,42 per barel. Sementara, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$3,76 atau 4,9 persen ke U$72,90.

“Suasananya negatif, grafiknya negatif,” kata analis Price Futures Group Phil Flynn, dikutip Reuters.

Data AS mencatat jumlah warga yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran meningkat ke level tertinggi dalam tiga bulan. Hal ini menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja terus melemah.

Penjualan ritel AS turun untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan. Pembelian kendaraan bermotor dan belanja hobi menurun. Ini menunjukkan melambatnya permintaan pada awal kuartal keempat, yang semakin memperkuat ekspektasi Federal Reserve akan menaikkan suku bunga.

OPEC dan Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan terbatasnya pasokan pada kuartal keempat, namun data AS menunjukkan stok minyaknya berlimpah.

Sementara itu, perkiraan perlambatan produksi kilang minyak Tiongkok juga membuat investor was-was. Oktober lalu, produksi minyak berkurang dari nilai tertinggi bulan sebelumnya. Perlambatan ini terjadi karena melemahnya permintaan bahan bakar industri dan menyempitnya margin penyulingan.